Demokrasi Apa Untungnya? Ujian Teros Selamatnya Gatau..

Beberapa hari yang lalu salah satu kawan ngechate, tentang ahok. Ditengah chat topiknya malah jadi kemana mana. Ini adalah salah satunya.

****

Ngana sendiri berdiri di posisi mana? hahaha Kalo ahok/haritanoe naek nyapres, kira2 gmn tanggapanmu

Aku org pertama dong! Harus pertama pokoknya walaupun akhirnya dimasu, itu lbh terhormat darpada jadi istri madu!! (opooo)

Gpg bgt lah, ku dukung malah. Ben ndang instrospeksi massal im. Sudah terlalu lama tidur pulasnya~

Nah…cocok… demokrasi menyediakan fasilitas ujian n instrospeksi, sekaligus. Coba klo pke sistem islam, apa untungnya?

Yang sejatinya kita jadi mengambil peran Allah. Untungnya aslim taslam lah. Demokrasi apa untungnya? Udah ujian terooos selamatnya gatau

Ya karna tak faham apa yg dituju. Apa yg diperjuangkan dan bagaimana tahapan caranya. Seperti ditanya.. apa tujuanmu, masih berislam sebegini tua il?

Jadi apa yang dituju dan diperjuangkan dr sistem demokrasi?

Omooo aku sedang diselami

 

***

Kalau kamu sudah pernah baca chitchat kawan gue tentang ‘Ahok’, ini adalah serpihan lain dari chat tersebut. Tentang sistem Islam dan Demokrasi. Agak ndakik sih memang, tapi yah demi alasan apapun sepertinya gue juga perlu juga mengabadikan salah satu momen chat ini. Sekaligus biar ada alibi buat mendokumentasikan momen chat beberapa tahun lalu tentang topik yang sama.

Pertentangan demokrasi dan sistem islam sebenarnya sudah lama ada. Namun khusus gue sendiri baru akrab setelah lulus SMA. Dulu sebelum lulus SMA yang santer dan lebih banyak gue denger sih pertentangan NU – Muhamadiyah. Setelah keduanya mulai rujuk..ciecie rujuk…eh apa lebih tepatnya disebut islah kali ya, setelahnya justeru kelompok yang marak disebut sebagai transnasional menguat. 

Dengan semangat pembangunan kembali Sistem Islam (Khilafah). Bedanya, satu kelompok menolak menggunakan demokrasi sebagai sarana, sedangkan yang satu lagi lebih memilih demokrasi sebagai sarana membangun penerapan nilai – nilai islam.

Kita akan sering mendengar argumen semacam kawan saya ini dari golongan yang menolak menggunakan demokrasi senagai sarana mencapai penerapan nilai – nilai islam.

Yang sejatinya kita jadi mengambil peran Allah. Untungnya aslim taslam lah. Demokrasi apa untungnya? Udah ujian terooos selamatnya gatau

Mengandaikan bahwa mengambil hukum dengan cara demokrasi (persetujuan mayoritas) adalah mengambil hak Allah sebagai penentu hukum. Menurut gue sendiri sih justeru disinilah permasalahn intinya. Misalnya begini :

Kita tinggal di negara berhukum islam, dan jika menurut pemikiran doi tentu Allah akan mengambil peran dalam menentukan hukum. Kita tentu sepakat bahwa dalam hal ini bukan berarti Allah akan kembali mengutus nabi untuk menyampaikan keputusan hukumNya atas sesuatu. Karena islam telah sempurna.

Maka kemungkinan keduanya adalah, kita mengambil hukum dari Al – Qur’an dan Hadist (Sunnah) sebagai representasi Hukum Allah. Dalam hal inipun kita tidak serta merta menerapkan apa yang tertulis di Al – Qur’an, masih harus melalui tafsir. Dibagian ini lalu kita menemukan banyak cabang – cabang penafsiran atas hukum. 

Jika tidak ditemukan melaui Al – Qur’an dan Sunnah, maka hukum diambil dari Ijma’, kesepakatan para ulama. Disini kita akan lebih banyak lagi menemukan cabang – cabang pendapat lain. Pada akhirnya kita jadi bertanya – tanya, yang dimaksud “sejatinya kita mengambil peran Allah (sebagai penentu hukum)” bagaiamana? 

***

Dulu sekira dua tiga tahun lalu perdebatan tentang khilafah ini juga pernah panas diantara gue dan temen – temen. Gara – garanya salah seorang kawan ternyata menjadi kader HTI, dan kawan saya yang NU ngeshare kritik terhadap ust. Felix. Dan cekcok panjangpun terjadi, di dunia maya tentu saja. Jejak jejaknya masih ada kok, lihat saja. 

Cukup banyak literatur tentang betapa gemilangnya masa Khilafah dahulu. Pun tidak sedikit yang mengkritik jalannya khilafah bahkan dimasa yang paling gemilang, yakni Khulafaul Rasyidin. Bahwa peradaban yang gemilang itu tetap mempunyai sisi – sisi gelapnya. Dan sering sekali kita tidak mengakuinya, dan susah jujur atas itu semua. 

Salah satu yang sempat gue baca dan bisa kamu baca juga misalnya “Kebenaran yang Hilang” milik Farag Fouda. Dalam pembukaannya Faraq menulisa bahwa ada beberapa alasan kenapa kita sangat sulit berlaku jujur pada sejarah kekhilafahan. Pertama, karena adanya ketakutan. Kedua, karena terlalu banyak hiperbola. Ketiga, karena terlalu berhitung menyangkut segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa orang yang mengungkapkannya.

Dalam buku ini kita bisa menemukan kendala – kendala yang perlu sekali diatasi jika kita hendak menerapkan kembali khilfah dimasa ‘Negara Bangsa’ seperti sekarang ini.

Jika kamu cukup senggang, bisa pula membaca bahasan tentang ‘Konsepsi Negara dalam Perpektif Agama’. Walaupun tidak begitu komprehesif, paling tidak kamu bisa mendasarkan sebuah kritik berdasarkan artikel ini.

Jadi, apakah Khilafah sudah tidak relevan lagi?

Oh tunggu dulu, gue juga termasuk orang yang meyakini bahwa Khilafah ‘ala minhaj Nubuwwah bakalan tegak lagi suatu ketika. Tapi tentu saja kita sepakat bahwa khilfah yang dimaksud bukan seperti ISIS seperti yang kita kenal sekarang ini. gue lebih setuju Khilafah nantinya akan berbentuk semacam PBB dengan Dewan Keamannya adalah negara – negara yang Islami (tidak harus negara Islam). Dan ini datang dari sistem demokrasi. 

Jadi apa yang dituju dan diperjuangkan dr sistem demokrasi?

Sebernanrnya secara logis justeru sistem demokrasi menguntungkan bagi keberadaan semua sistem yang ada. Menerapkan syariat pada bingkai yang minim unsur diskriminasi dan kecemburuan. Misalnya begini, jika kita ingin menerapkan suatu aturan tinggal penuhi saja ruangan tersebut dengan orang –orang kita. Maka secara otomatis penerapan suatu hukum akan menjadi legal formal. Gampangnya begitu. Jadi logika bahwa demokrasi mengambil Hak Allah dalam mengambil hukum agak kurang masuk akal dan susah dipahami menurut gue.

Salah satu buku asik yang pernah gue baca tentang ini misalnya ‘Menikmati Demokrasi’. Di lembaran – lembaran awalnya misalnya disebut bahwa “membangun kehidupan yang islami adalah sebuah proyek peradaban raksasa. Proyek besar bertujuan merekonstruksi pemikiran dan kepribadian manusia muslim agar berpikir, merasa, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah swt. Atau dengan referensi Islam.”

Yang pasti, yang bikin buku ini asik adalah, ia tidak hanya menawarkan konsep dan wacana tapi juga menerangkan tahapan. Ya walaupun hanya garis besarnya saja sih, tidak secara detail. Tahap – tahap itu anatara lain pembangunan organisasi yang kuat dan solid (tanzimi), membangun basis sosial yang luas (sya’bi), membangun istitusi di berbagai bidang (muassasi) dan yang terkahir adalah tahapan legal formal dalam institusi negara (dauli). 

Organisasi – organisasi besar semacam NU dan Muhamadiyah gue kira juga sudah menerapkan tahapan – tahapan semacam ini. Misalnya sektor pendidikan di berbagai tingkat, sejak MI/SD hingga perguruan tinggi. Juga di sektor ekonomi dan kesehatan. Muhamdiyah dalam hal ini memang terlihat lebih menonjol, terutama dengan semangat ‘Islam Berkemajuan’-nya. Sedangkan NU lewat amanat Muktamar ke-33 tidak mau kalah dengan basis kerakyatannya melalui semangat ‘Islam Nusantara’ yang diusungnya. 

Akhirnya kalimat ini mungkin cocok untuk menutup serangkaian uraian panjang diatas, “Allah swt. Sesungguhnya meletakkan ujian bagi kita, para duat : bagimana menyepadankan kebenaran Islam dengan kesalihan manusianya dan menyamakan kebesaran Islam dengan kehebatan manusianya.”

Wallahu a’lam bishawab.

    Iklan
    Status

    Temen Gue Gaboleh Ngisi Pengajian Lagi

    Gue baru selese ngeberesin lapak,sekira ba’da maghrib, ketika tiba tiba kawan gue ngechate.

    Assalamualaikum, kerja
    ga? Diskusi yu boi

    Begitu katanya. Gue baru bales chat doi usai sholat isya.
    Wa’alaykumsalam wr. Wb

    Malem ini masuk 

    Libur malem selasa ama jum’at, pekan depan

    Diskusi apa boy? 

    Hehe yuk

    NU

    Boleh

    Ada yang bikin lo penasaran tentang nu tah

    Atau abis baca buku atau artikel?

    Abis ngisi pengajian pake laptop ama proyektor, abis itu ga boleh ngisi lagi w. Haha

    Lhaah

    Haha

    Gue jujur saja kaget, serius nih bocah, pikir gue. Atau gue curiga jangan jangan ini bocah ngajarin aliran sesaat. Buka cabang dimas kanjeng di daerahnya, kan siapa tahu.

    Lu abis ngisi dimana emang?

    Di kampung w haha, susah dakwah di kampung mah. Haha. Hal merapatkan barisan solat aja susahnya minta ampun, setan solat dibarisan pertama boi

    Lahh, begitu to ternyata. Cuma gara gara salah metode, kirain.

    Itulah seninya boy haha

    Gabisa disamain sama anak kampus

    Yawdah kalo lu lagi gawe mah,

    Nti aja. Seru lah cerita w mah. Oya selain pake laptop dan proyektor, pengajian w kaga pake yasinan.

    Sebenarnya ini juga blm rame sih

    Paling kalo rame, gw blsnya jd lama

    Haha

    Sambil ngopi tah, tar malem selasa

    Ketemu di serang

    Rencananya mau ke ciruas, ambil buku

    Nti w kabarin lagi hari senen, ke serang juga kondangan asep alien sore.

    *** 

    Aduan semacam ini barangkali bukan sekali dua saya dapat secara langsung maupun tidak langsung. Kadang – kadang ketika sedang ngobrol bersama kawan, tiba – tiba ada yang nyeletuk, “Iya tuh kayak orang – orang ditempat gue, udah dibilangin malah gue dibilang masih anak ingusan.” Yah, semacam itulah.

    Kawan – kawan, dan bahkan mungkin juga saya, yang sempat mengenyam “Liqo” di kampus pasti hampir pasti mengalami yang sama ketika berada di masyarakat dengan kondisi masyarakat yah, yang enggak seideal di kampus.

    Yang terjadi akhirnya malah konflik antara diri kita dengan masyarakat sekitar. Syukur kalau masih dianggap, kalau lantas diansingkan hanya karena tidak sesuai jalan pikirannya kan jadi repot sendiri. Banyak lho yang semacam ini, misal kawan – kawan yang sudah seharusnya membina di masyarakat tapi masih liqo atau membina di daerah lain hanya karena di daerahnya tidak diterima.

    Dulu sekali, sekira dua atau tiga tahun lalu saya sempat cekcok sama kawan – kawan SMA saya hanya karena pandangan kita berbeda. Berdebat panjang lebar di laman FB hanya untuk menghabiskan energi, dan seolah – olah ingin menunjukkan,”Nih pemahaman gue bener, elo salah.” Tapi, yasudah begitu saja, enggak ada ujungnya, semisal akhirnya,”Oh bener juga kata lo yah. Udah deh gue ikut lo kalo gitu.”

     Belakangan baru saya sadar, bahwa konstruksi kawan – kawan saya sebenarnya tidak jauh beda dengan saya sendiri. Yaitu bahwa, dalam diri mereka sudah tertanam nilai “benar”, maka dalam berdialog sekalipun yang benar itulah yang akan selalu dipegang. Saya pun demikian, telah menanam nilai benar saya sendiri, maka dalam posisi saling menunjukkan kebenaran itu tidak akan didapat apapun. 

    Menyampaikan kebenaran ternyata tidak bis dicapai dengan komunikasi satu arah saja, dengan jalan pikiran kita saja, dengan bahasa kita saja. kebenaran tidak bisa disampaikan begitu saja dalam realitas yang sudah tertanam didalamnya sistem kebenaran lain. Njimet amat dah ini…

    Kalau kata Rosul, berbicara dengan bahasa kaummu. 

    Kawan saya yang besar di Tarbiyah ini tentu berbeda cara berpikirnya dengan kalangan masyarakat yang mayoritas NU. Benar bahwa doi pengen meluruskan sesuatu dalam msyarakat yang dia anggap salah (berdasarkan kacamata doi), benar bahwa niatnya untuk berdakwah patut diapresiasi, namun dengan bahasa yang kurang tepat dan media yang tidak sesuai, hasilnya akan nihil.

    Misalnya, masayakat sudah akrab dengan pengajian yang didahului dengan pembacaan Surat Yasin, doi malah enggak pakai, ini menimbulkan jarak antara keduanya. Masyarakat akrab mengaji pakai kitab, kajian kitab, ini malah pakai infokus. bukan apa – apa, kebanyakan masyarakat kita lebih senang mendengar daripada membaca. Sebagaian malah mungkin masih blm lancar membaca. Maka infokus bukan alat yang pas dan cocok untuk dakwah dikalangan masyarakat. 

    Konflik semacam ini kelihatannya sepele, tapi dalam cakupan yang lebih luas, dia bisa menyebabkan gesekan yang sangat merusak. Misalnya saja gesekan antara Muhamadiyah dan NU yang sempat panas dalam waktu yang panjang, walaupun sekarang sudah lumayan reda. Atau bahkan gesekan antara Muhammadiyah dengan Gerakan Tarbiyah yang juga sempat memanas. Hal – hal semacam ini sangat kontra-produktif sekali dengan tujuan awal dakwah yakni mengajak pada kebaikan. 

    Dalam kasus kawan saya ini, menurut saya sih, ada setidaknya dua kaidah yang dilanggar dalam khazanah dakwah.

    Pertama, mengabaikan kaidah mengajak dengan Hikmah dan mauidhoh Hasanah.

    Kedua, mengabaiakan bahasa umatnya. 

    Misalkan masyarakat terbiasa menggunakan bahasa Sunda, kok di dakwahi dengan bahasa Indonesia, yang timbul adalah jarak. Apalagi kalau didakwahi pakai bahasa Jawa atau Inggris, lebih – lebih Arab. Salah – salah malah kita dikira sedang memanjatkan doa, lalu diamini, padahal sebenarnya kita sedang menyampaikan materi tentang tauhid, misalny.

    Ketika beberapa hari kemudian kami bertemu, hal – hal semacam itulah yang saya sampaikan. 

    Jika memang belum mampu menyampaikan dengan bahasa dan cara yang baik tentu belajar menjadi kewajiban. Bukan asal belajar, tapi tulus belajar dengan ahlinya, kyai sekitar misalnya. Yang sudah berpengalaman menghadapi masyarakat. Atau jika kita masih bocah ingusan, ya jangan banyak polah, kecuali sudah dapet gelar Al Amin seperti kanjeng Nabi. Atau kalau cara yang simpel, ya nikahi saja putri pak Kiyai, beres. Hehe

    Saya tentu kurang sopan jika harus memprotes banyak hal dan sekaligus nuntut doi harus gini musti gitu. Karena apa yang sudah doi lakukan sudah jauh daripada apa yang saya lakukan. Doi sudah mulai mencoba masuk ke masyarakat, ya walaupun memang belum begitu berhasil dan masih perlu banyak perbaikan. Saya? Duh..

    Tapi ketika mendengar curhatan kawan saya ini, saya jadi teringat salah satu status seorang seleb fb (mas Iqbal) tentang seorang penyeru yang kebetulan saya abadikan di note saya. Lalu saya pernah pula mendapati cerita serupa di buku Melawat Ke Timur, tentang ‘Imam dan Pak Munajat, Orang Tuanya.’

    Bagi saya, ini tentu peringatan dan belajar buat saya sendiri sebelum nantinya, siapa tahu dapat kesempatan seperti kawan saya ini, didapuk jadi mubalig di masyarakat. Tulisan ini sebenanrnya akan lebih bermanfaat jika doi berkenan menyambung dan memberi tulisan balasan, misal curhat lanjutan, atau pengalaman lain kenapa doi lebih memilih cara doi ketimbang cara yang sudah umum di masyarakat dsb. Ya, semoga saja deh. 

    Oh iya, kawan saya yang curhat ini namanya Adin, lengkapnya Ahmad Bahrudin , doi sedang menempuh Pasca Sarjana Ekonomi lho. Ya siapa tahu nanti bisa belajar lebih lanjut dari doi tentang Marxisme, huehehe. Kalau kamu pengen kenal lebih deket sama doi, di add aja sosmednya, suka jalan – jalan dan masih jomblo sih. Hehe

    Kutipan

    Jadi Ikutan Bahas Ahok

    Di salah satu kesempatan chat yang sedang membahas embuh, tiba – tiba kawan nyeletuk..

    Eh cah, nek ahok dadi presiden(agak oot), piye? Tanggapan anda

    Sebentar. 
    Doi ga bakal sampe situ menurutku

    Paling enggak untuk bbrp periode kedepan. Org2 kiri jg ga sreg sama doi sih.

    Andai agamawan lbh memilih jalan org2 kiri dlm menggembosi ahok, bakalan asik sebenernya.

    Tapi yah rasial lebih gampang dislut sih.

    Kalaupun doi jadi presiden ya investasi lebih banyak masuk, lebih banyak cekcok sama dpr, usaha tekling dmn2

    *duh aku nek ngomongi kokui nan berasa jd org yg membosankan ik mil

    Usaha tekling ~~~

    Haha menyebalkan disaat petang. Pas menyebalkan datangnya ke uwe lagi kan! 

    Apa karena dtg ke uwe lalu jd menyebalkan? Ok lupakan

    Iki kan kata2 yg keluar dr imam sbagai negarawan, nek dr imam sebagai rakyat indonesia yg ber ktp islam?

    Sorry mil baru balek. Wes turu?

    Sebagai muslim, tentu saja aku memilih muslim drpd no muslim

    Kalo yg muslim saja masih punya kemungkinan nyeleweng, bkn berarti non muslim ga punya, to?

    Di luar itu, walaupun hampir tdk ada hadist/ayat yg scr jelas n langsung melarang noni…tp

    Di bagian doktrin tauhid, kita bisa jumpai bab wala’ wal bara’, 

    Ialah kepada siapa kecintaan/pembelaan dan kebencian/penolakan/pencegahan seharusnya kita lakukan sebagai konsekuensi syahadat n keislaman kita

    Dmn, Eik sebel musti nulis scr leterleg, dan teoritis

    Dan klo doi sampe beneran jadi, artinya muslim seindonesia musti introspeksi massal…

    Emg udh ga ada muslim yg baik yg berintegritas buat dipilih jd pemimpin….

    Intinya itu sih

    Glory morning jeng imam *aplouse*

    Mmmm begitu ya. Ternyata mayoritas rakyat indonesia yg ber ktp islam masih pengennya dipimpin sama yg ber ktp islam juga ( untuk tidak menyebutnya muslim) padahal kan ya sah2 aja pemimpinnya noni, tidak menyelahi konstitusi indonesia yang sekuler

    “doktrin tauhid” wkwkwkwkw parah iki, padahal dasar dr segala aktivitas hidup lho. Malah doktrin

    Yup. Instrospeksi kenapaaaa kok gamau pake pemimpin yg noni? Kan ini negara sekuler. Harusnya jadi muslim mah yg mantap ya. Kl ga mau dipimpin sm noni, knp masih mau pake sistem yg cmpur aduk islam dan noni?

    Secara simple “muslim” = org2 yg ber ktp “islam”

    Benar, memang sah scr konstitusi. 

    Tp ngana harus tau, arus ke sara an di indo n di hampir semua negara itu masih kental.

    Km pikir kenapa jokowi masih bisa naek, pdahal digoyang dg isu kafir, antek yahudi, cina bhkn pki? Ya krn 1 hal, doi mantan walikota solo titik. Yang artinya doi tulen jawa. Yg artinya lg, di indo kalau mau nyalon pres, n bkn jawa mending pikir2 dulu aja deh. Hahaha

    Demokrasi itu justru ujian buat soliditas umat islam. sejauh mana mereka bisa berpihak dg sesamanya. Klo udh pasti pke sistem islam n udh pasti semua bakal berjalan sesuai syari’at, njuk opo tantangn e?

    Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : “ Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi (al ankabut 29 :2)

    Sabtu pagiku ancur. uIll kampret.

    Kl mukmin? Yg ktp nya beriman? Kl muttaqin? Yg ktp nya bertakwa?

    Sayangnya iman raiso mbok delok ko ktp je. Tp nek mutaqqi iso. Koncoku ono sing ktp ne tertulis muttaqin

    Loh ngana pikir jaman khulafur rasyidin ga ada ujian karena udah pake sistem islam?

    Yaitu, kelamaan pake sitem islam, terlalu nyaman dg keteraturan, lalu lupa rasanya berjuang. Lantas mati berlahan. Jatuh juga to akhirnya kekhilafahan. Iabarat pacaran, masa terindahnya ya pas pdkt. Pas udah jadian, kok lurus2 saja, damai2 saja, putuslah kemngkinannya. Begitupun beragama. Jadi islammu blm kaffah nek durung pacaran, putus nyambung putus nyambung.

    Hmmm. Jadi mending pake demokrasi ya, biar kerasa terus berjuangnya. Padahal gatau untuk apa dan siapa. Pokoknya berjuaaang weeeh.

    Posisimu org ketiga serba tau ya im wkwkw

    ****

    Dalam chating semacam ini sulit memang melihat latar belakang orang berbibaca. Dalam hal ini kawan saya lebih unggul karena doi tau background pemikiran saya. 

    Iki kan kata2 yg keluar dr imam sbagai negarawan, nek dr imam sebagai rakyat indonesia yg ber ktp islam?

    Tapi ada beberapa yang bisa dilihat dalam chat ini. 

    Pertama, Kepemimpinan Non – Muslim.

    Mmmm begitu ya. Ternyata mayoritas rakyat indonesia yg ber ktp islam masih pengennya dipimpin sama yg ber ktp islam juga ( untuk tidak menyebutnya muslim) padahal kan ya sah2 aja pemimpinnya noni, tidak menyelahi konstitusi indonesia yang sekuler

    Sejarah Islam pernah gemilang dengan adanya kepemimpinan Khilafah masa Khulafu Rasyidin. Dimana semua pemimpin pusatnya adalah muslim, itu wajar. Karena memang sangat tidak mungkin menyerahkan urusan kekhilafahan kepada seorang non muslim seberapapun adilnya. Sama mustahilnya dengan menyerahkan ke-Paus-an pada seorang muslim, seberapapun adilnya. Namun permasalahannya menjadi berbeda jika sudah menyangkut suatu negara.

    Kita tentu setuju bahwa kepemimpinan satu sistem khilafah tidak vis a vis jika harus dibandingkan dengan kepemimpinan satu negara, apalah lagi dengan kepemimpinan satu daerah setingkat provinsi atau yang lebih rendah lagi. 

    Dalam negara demokrasi semua sah, selama secara legal formal disetujui. Termasuk kepemimpinan non – muslim. Masalah selanjutnya adalah, pandangan seseorang terhadap sistem demokrasi ini (akan dibahas di poin selanjutnya). Untuk seseorang yang sudah semula tidak setuju dengan demokrasi, dan menyebutnya sistem thogut, jangankan pemimpin non muslim pemimpin muslim saja pasti akan dipermasalahkan. Bahkan bukan Cuma kepemerintahannya, tapi juga produk hukumnya.

    Jika kita punya waktu yang cukup luang untuk membaca banyak sumber, kita akan mendapatkan banyak sudut pandang, baik yang membolehkan maupun yang melarang. Yang membolehkan tentu saja karena memang kemimpinan yang harus diutamakan adalah kapasitas keadilan seseorang, tidak musti muslim.

    Sedangkan yang melarang, berlandaskan pada bahasan seputar al wala’ wal bara’, ialah kecintaan/ kesetiaan dan pengingkaran seorang muslim. Prinsip wala’ wal bara’ ini termasuk salah satu yang paling vital dalam bahasan aqidah, Tauhid.

    Permasalahan selanjutnya adalah landasan yang dipakai untuk menjelaskan, prinsip al wala’ ini. asal kata wala’ yang juga berasal dari kata wali/aulia, sendiri mempunyai banyak makna. Itulah kenapa saya katakan ke kawan saya, bahwa memang tidak ada dalil yang spesifik menyebut melarang kepemimpinan non – muslim.

    Hasil kesimpulan yang menyebutkan bahwa kepemimpinan non-muslim dilarang adalah hasil ijma’ atau kesepakatan jumhur ulama. Tentu saja hal ini bersandar pada hadist dan ayat yang kemudian disimpulkan, termasuk didalamnya juga penerapan prinsip wala’ tadi.

    Yang terjadi saat ini adalah ekploitasi hukum ijma’ tersebut di ranah publik, sehingga menimbulkan kesan ketidak adilan dan pengingkaran HAK. Kebanyakan mereka yang berpijak kepada Syeikh Qardhawi, Ibnu Taimiyah dan lain – lain dari kalangan Islam Politik. Namun jika kita baca lebih lanjut Qardhawi ataupun Ibnu Taimiyah sendiri tidak secara lansung melarang. Bahkan salah satu kata – kata Ibnu Taimiyah malah sering dikutip sebagai pembenaran kepemimpinan lintas agama.

    “Allah akan menolong negara yang adil sekalipun kafir dan akan membinasakan negara yang zalim sekalipun beriman.” – Al – Hisbah fi Al Islam aw Wazhifah Al – Hukumah Al – Islamiyah, Ibu Taimiyah.

    Adil selalu menjadi pokok utama pembahasan seorang pemimpin. Artikel semacam Status Hukum Kepemimpinan Muslim dan Non Muslim dalam Islam“ dan “Ibnu Taimiyyah tentang Pemimpin Non – Muslim” bisa menjadi acuan. 

    Tapi sebagai bacaan pembanding, kita bisa mnegacu pula kepada tulisan , “Ahok dan Kepmimpinan Non-Muslim” ” dan “Pemimpin Non-Muslim Haram ?”. Tentu tanpa asumsi latar belakang pemikiran sang penulis dan media yang memuatnya. Cukup pahami dengan akal sehat, sesuaikah atau tidak. Lalu kita bisa membaca lagi artikel tentang mujtahid yang satu ini.

    ****

    Tentang status muslim KTP, dalam hal ini saya bersepakat dengan mereka yang bersyahadat adalah muslim. Tentu dengan penyimpangannya masing – masing. Selama mereka bersyahadat, haram hukumnya kita mengkafirkan. Mau Islam KTP kek, Ga solat kek, Liberan, Syi’ah, Wahabi, atau Abu – Abu sekalipun.

    ****

    Akhirnya, semoga Allah tetap melimpahkan hati yang baik dan adil dalam diri kita. Jika memang ada pemimpin muslim yang baik dan kompeten, mengapa harus memilih non muslim ?
    Wallahu a’lam bishawab

    Status

    Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

    Cerita ini dibuka dengan prolog yang penuh kemarahan dan penderitaan. “Ibarat pejalan, aku sudah berjalan terlalu jauh.” “Aku ingin membakar masa laluku. Aku ingin membakar karmaku. Aku ingin meluruskan dan melenturkan tulang punggungku.”

    Di dunia ini ada orang – orang yang sangat mudah mendapatkan kekasih. Banyak juga orang – orang yang sangat sulit mendapatkan kekasih. Ditolak berkali – kali, dengan berbagai macam alasan. Tapi ada juga yang semacam orang yang mempunyai peruntungan diterima hampir semua kekasih tapi tidak pernah mempunyai jalan cinta yang sewajarnya.

    ***

    Kamu pernah suatu kali tidak sengaja bertemu bekas pacarmu di suatu acara ? tidak, dia sedang tidak pergi dengan suaminya atau isterinya. Mantan yang (mungkin cinta pertama) sangat berkesan buat kamu. Setelah lama sekali kamu enggak menghubunginya, tidak mau tahu tentangnya, ternyata dia sebaliknya, “Aku mendengar banyak hal tentang kamu..”

    Percakapnmu lalu berlanjut tentang kabar – kabar. Tentang nostalgia kenangan – kenangan kalian. Tentang betapa kamu mengingat bagaimana ia memegang gelas, dan betapa dia mengingat caramu memandangnya. Sampai akhirnya tuduhan itu meluncur tajam, “Kan, kamu selalu seperti itu, dari dulu. katanya setia, tapi selalu ada di mana – mana..”

    Kamu lalu berusaha keras mengelak dari tuduhan itu, “Aku bukan playboy. Aku hanya orang yang tidak kenal menyerah, dan tidak beruntung.”

    “Kenapa tidak membiarkan dia datang ke sini ? Aku belum berkenalan dengannya.”

    “Gila. Dia selalu cemburu denganmu.”

    “Memangnya kamu cerita apa tentangku?”

    “Aku telah mencintai seorang perempuan, dan dia meninggalkanku. Satu – satunya kesalahanku adalah karena aku terrlalu mencintai perempuan itu. Dan sialnya aku tidak bisa mencintai yang lain lagi.”

    ***

    Ini mungkin pernah juga kamu rasakan. Orang tua mu sudah menuntut untuk menikah, kamu sudah berusaha namun tetap gagal. Kamu hampir menyerah dan menyerahkan kepada orang tuamu untuk memilihkan calon.

    Lalu ibumu hadir dengan seorang teman barunya. Seorang dokter muda, Sarah namanya. Cantik , cerdas, berwibawa, ceria. Ibumu terkesan membuat moment agar kamu bisa bersamanya, berkesan sekali sebagai strategi perjodohan. Kamu terpesona, tapi ibumu tidak mau memberikan informasi lebih lanjut tentang dia.

    Hanya nomer telponnya saja sambil menulis di kertas itu, “ Usaha sendiri, dong!”

    Kamu menghubunginya via sms, hingga hubungan kalian bisa diumpamakan dekat. Kamu lalu membuat janji dengannya. Sial, bahwa jam “aktif”mu berbeda dengan jam orang kebanyakan. 

    Kamu melewatkan pertemuan yang telah kamu idam – idamkan. Dia mungkin kecewa denganmu.

    Lost kontak agak lama, hingga akhirnya dia mau kembali membalas pesan – pesanmu. Kamu girang bukan kepalang, kamu merasa tak boleh hilang kesempatan. Kamu lalu bercakap apa saja, cerita apapun, dia menimpali. Kamu girang lagi.

    Kamu seperti merasa jatuh cinta lagi. Seperti ABG lagi. Walaupun kamu merasa menjijikkan, tapi kamu menikmatinya. Kamu berharap ini akan berakhir bahagia. 

    Kamu mencoba berhenti menghubunginya sejenak untuk menyamarkan ketertarikanmu. Hingga akhirnya kamu sendiri yang tidak tahan untuk tidak menghubunginya. 

    Satu pesan kamu kirim. Tanggapannya, ia bilang sebaiknya kamu tidak perlu lagi menghubunginya. Ia tidak ingin lagi membaca pesan – pesannmu karena baginya itu hanya buang – buang waktu saja. Kamu lalu penasaran apakah ada yang salah. Kamu mencoba menelponnya tapi tetap tidak bisa. Berhari – hari lamanya.

    Kepada temanmu kamu mengadu. Mereka bilang, sebetulnya perempuan itu mau agar kamu lebih keras menghubunginya. Dia ingin bermain-main proses denganmu. Ia ingin menguji sejauh mana kamu serius ingin menjalin hubungan dengannya.

    Teman – temanmu bilang, yang dia tunjukkan itu adalah ciri perempuan yang tahu bahwa dirinya cantik. Perempuan yang sangat percaya diri dengan kecantikannya. Perempuan yang tahu bahwa ada laki – laki yang harus menekuk lutut di depannya, kalau perlu menyorongkan tubuh ke tanah ketika berhadapan dengannya.

    Kamu berkesimpulan bahwa kata – kata temanmu ada benarnya. Kamu akhirnya tahu bahwa itu akan memakan banyak energimu. Kalauapun jadi, itu tak akan baik buatmu. Dan kamu memutuskan untuk berhenti menghubunginya.

    ***

    Sekali waktu mungkin kamu juga pernah saat kuliah. Ikut oraganisasi yang radikal keras bersuara. Kamu menjadi idealis, tapi di ujung sana ada wanita yang memikatmu. Wanita yang jauh sekali dari hingar bingar duniamu.

    Kamu mendekatinya, dia menghadangmu. Kamu tetap berusaha mendekatinya. Mendatangi rumahnya, dia hanya membuka pintu. Kamu terus mencoba dan pantang menyerah, dia mau keluar menemanimu.

    Kamu menyatakan cinta, dia menolak. Tapi kamu bukan pria yang mudah patah arang. Kamu mencoba lagi, mengetuk pintu lagi, hingga akhirnya jalan lagi. Kamu menyatakan cinta lagi, tapi dia menolakmu lagi. Dia bilang dia sudah punya pacar.

    Kamu keras kepala sebagaimana idealisme mengeraskanmu. Kamu tetap menyatakan cintamu, dia bilang kamu bandel. Sampe akhirnya dia menangis, luluh dan mau menerimamu.

    Di organisasimu, goncangan berat terjadi. Oragnisasi kacau di tengah pecahnya gelombang reformasi 98. Kamu kacau, tapi dia yang tak tau apa – apa tentang duniamu tetap coba merawatmu.

    Menuntun langkahmu kembali tegak. Merapihkan kembali serpihan – serpihan kampus yang sempat kamu tinggalkan. Hingga akhirnya kamu selesai dan mampu bangkit kembali.

    Tapi tiba – tiba orang tuanya meragukanmu. Dia menyudahinya begitu saja, dan pergi meninggalkanmu. Luka mana lagi yang lebih besar dari harapan yang dibangun lalu dirobohkan sendiri.

    ***

    “Cinta Tak Pernah Tepat Waktu” menceritakan renik luka dengan degala skenarionya. Kamu mungkin akrab dengan salah satunya. 

    Membaca Cinta Tak Pernah Tepat Waktu adalah membaca luka sekaligus upaya menyembuhkannya. Ia membagi luka padamu yang mungkin merasa orang paling malang sedunia.

    Saya ingat waktu kawan saya berkomentar tentang buku ini, “ Wehew bacaanya..”

    Awalnya saya pun hampir sama, menanggapi buku yang dari judulnya ini terkesan buku yang menyek – menyek. Tapi lihat setelah kamu sampai di bagian — saya menyebutnya sebagai — aktivis yang jatuh cinta. Kamu bakal menemukan betapa hiruk pikuk organisasi pergerakan pra sampa pasca reformasi 98.

    Dari mulai aksi – aksi, sampai bagi – bagi kekuasaan. Kesenjangan antara gerakan pusat dan gerakan akar rumput yang akhirnya menimbulkan perpecahan. Korban – korban gerakan yang dengan lantang menyaurakan kebebasan, lalu pergi meninggalkan kampus, hingga tak jelas rimbanya. Lalu ternyata nasibnya tak seberuntung yang kamu kira. Ada perenungan tentang kerasnya idealisme, dan benturan kerasnya realitas kehidupan.

    Juga bagian dimana si tokoh menerangkan “Pembunuh Bayaran”. Ini semacam tingkatan karir. Dari yang palin rendah yaitu Detektif Partikelir, Pembunuh Bayaran, Setan Belang Dan tingkat tertingginya dinamakan Dewa Laut. Pembunuh Bayaran, ternyata bukan betulan pembunuh, tapi seorang dengan pekerjaan yang sekarang lebih keren disebut sebagai freelancer.

    Dan bagian yang paling saya suka adalah bab tentang Surga Kecil. Tempat – tempat dimana si tokoh menyembuhkan dirinya. Pelan – pelan, dengan berbagai macam cara. Tempat yang ketika membacanya semerta – merta membuat kita ingin kesana sekaligus penasaran, masih ada ya tempat semacam ini di kota A? Atau, ada ya orang – orang semacam ini di dunia?

    Walaupun memang buku ini bercerita tentang luka, jangan mengira kamu akan melulu disuguhi kesedihan belaka. Pada tahap tertentu, ada saja hal – hal konyol yang akan membuat kamu tertawa. Karena seperti kata Anton Pavlovich Chekhov bahwa, puncak dari sebuah tragedi adalah komedi.

    “Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi, biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan disana.”

    “Sesungguhnya, aku hanya ingin kebahagiaan yang sederhana. Sesederhana membangunkan seseorang dari tidurnya di pagi hari, dan kemudian bercinta.”

    ***

    Judul : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

    Tebal : viii + 261 halaman
    Penulis : Puthut EA

    Penerbit : MOJOK STORE (Terbitan Kelima)
    ISBN : 978-602-1318-27-0

    * buku ini saya dapatkan dari artikel berjudul Sekoteng Lintas Generasi Pak Wan

    * jika kamu penasaran dan berhasrat memiliki buku keren ini, kunjungi Mojok Store Segera.

    Jomblo Dalam Perspektif Modernitas

    Hakikat dasar kehidupan setiap manusia adalah terlahir sendiri, hidup berjamaah, lalu mati sendiri​ – Cak Nun

    Awal tahun lalu kita dihebohkan dengan adanya berita tentag kunjungan presiden Jokowi ke Suku anak dalam di Jambi. Netizen akhirnya membuat tanggapan yang bermacam – macam. Dari yang pro dan kontra, dari yang hanya foto sampai yang analisa. 

    Yang pro tentu saja mendukung kebijakan presiden antara lain memberikan rumah tetap bagi para warga suku anak dalam. Yang kontra mempermasalahkan antara lain tentang terusirnya suku anak dalam dari habitatnya. Hampir sama seperti nasib kaum jomblo yang semakin tergilas dan tertindas pada zaman post-modern ini.
    Adalah mas Firmanda Taufiq yang baru – baru ini merumuskan bahwa penyebab utama nasib jomblo yang hampir mirip dengan nasib kaum suku anak dalam itu adalah akibat dari adanya “ledakan” dinamika pacaran yang tak terkendali. 

    Benarkah demikian ?

    Ada beberapa analisa yang kurang, dalam penyimpulan Mas Fimanda ini. Beberapa pertanyaan mendasar tentu bisa kita ajukan kembali. Misalnya, mengapa dinamika pacaran bisa meledak tak terkendali di jaman post modern ini ? Adakah sebab – sebab utama yang mempengaruhi? Ataukah sebenarnya “Pacaran” merupakan salah salah satu agenda Remason, dan Wahyudi dalam menguasai dunia? Dan pertanyaan – pertanyaan lain yang akhirnya memaksa kita untuk mencari akar permasalahan (meminjam istilah mas Firman) “meledaknya dinamika pacaran” dan “teralienasinya kaum jomblo”.

    Bicara post-modernisme maka kita berbicara kompleksitas permasalahan. Maka berbicara nasib “teralienasinya kaum jomblo” di era post-modern ini, tidak bisa kita sederhanakan hanya dengan menyebut “ledakan pacaran” sebagai sebabnya. Ada permasalahan yang lebih inti dan mendasar yang juga menjadi sebab permasalahan dalam eramodern ini, salah satunya seperti dalam kasus terusirnya suku anak dalam dari daerahnya. 

    Ya, keduanya sebenarnya disebabkan oleh permasalahan inti yang sama. Apa gerangan?
    Jauh – jauh hari seorang Budayawan Termasyur, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengatakan bahwa, “Kekeliruan orang modern adalah pemikirannya digiring untuk selalu menuju keadaan yang dipersyarati oleh standarisasi.” Lalu apa kaitannya dengan Jomblo?
    Salah satu standarisasi yang dilakukan orang modern saat ini adalah standarisasi kebahagiaan dan kesuksesan. Bahwa dalam perspektif modern, kebahagiaan dan kesuksesan sesorang salah satunya harus dipersyarati dengan adanya pasangan (pacar) dalam menjalani kehidupannya. Mereka yang tidak mempunyai pacar (Jomblo), dianggap tidak bahagia, tidak sukses, merana, dan tersiksa. Dan pada derajat tertentu dianggap perlu dikasihani. Sama seperti standarisasi kesuksesan dan kebahagiaan manusia dengan tinggal di rumah tetap, maka suku anak dalam yang nomaden itu dianggap tidak sukses dan tidak bahagia. Dan pada derajat tertentu perlu dikasihani (dalam hal ini dibuatkan rumah tinggal tetap).

    Padahal kita tahu bahwa kedua hal paling mendasar itu, kebahagiaan dan kesuksesan, sama sekali tidak terkait pada punya pasangan atau tidak. Punya pacar atau tidak. Tapi semata mata kebahagiaan dan kesuksesan adalah nuansa yang hadir dari kesadaran dalam diri, bahwa kita harus senantiasa bahagia dan meraih kesuksesan dalam hidup kita. Dengan atau tanpa adanya pacar disamping kita. Kebahagiaan adalah hasil dari apa yang disebut oleh Kuntoaji sebagai “asyik dengan duniaku sendiri. (Walaupun) lama tak ada yang menemani”.

    Maka tak heran, jika akhirnya kita menjumpai adanya “ledakan” dinamika pacaran sebagai akibat dari kesalahan berpikir kaum modern saat ini. Walaupun sering juga kita lihat bahwa mereka yang pacaran itu justeru jauh dari apa yang kita sebut sebagai standar kebahagiaan dan kesuksesan. Selain daripada kebahagiaan dan kesuksesan semu yang mereka coba pamerkan di depan khalayak sebagai kedok pertengkaran, pengkhianatan, perselingkuhan dan terkurasnya jatah bulanan sebagai akibat dari alokasi dana malem mingguan.

    Oleh karena itu, kita perlu meluruskan kembali makna kebahagiaan dan kesuksesan ini sebagaimana asalnya. Salah satu upayanya mungkin dengan menerapkan pola pendidikan Gaya jomblo sebagai manifestasi ideologi kaum tertindas. Sehingga dapat menanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa jomblo adalah cerminan manusia – manusia yang sadar. Sepenuhnya sadar bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tidak bisa distandarisasi, apalagi hanya dengan adanya pacar dalam mejalani kehidupan kita.

    Sebagai penutup, agaknya kata – kata Cak Nun yang satu ini perlu kita renungkan. Dalam suatu kesempatan Cak Nun mengatakan, “ Hakikat dasar kehidupan setiap manusia adalah lahir sendiri, hidup berjamaah, lalu mati sendiri. Sejak masih bayi, manusia secara naluriah diajari Tuhan untuk bekerja sama dengan ibunya, dengan pembantunya, dengan penjual susu, dan orang lain. Berjamaah bukanlah kewajiban melainkan hakikat hidup.”

    Saya ulangi lagi, bahwa hakikat hidup manusia adalah lahir sendiri, hidup berjama’ah dan mati sendiri. Dua hakikat kita hidup adalah lahir dan mati sendiri. Sedangkan Hakikat hidup satunya lagi adalah hidup berjama’ah, bukan hidup berpacaran. Ya meskipun Jomblon dak papa yang penting berjama’ah. Alangkah lebih baiknya lagi kalau kita njomblonya berjama’ah, njomblo bareng – bareng, jangan mumfaridan aja. Karena sesungguhnya jomblo berjama’ah lebih baik 27 derajat, daripada njomblo sendirian.

    Oleh karena itu wahai saudaraku jomblo sedunia, senasib sepenanggungan. Jikalau nanti diri engkau merasa gundah gulana dengan kesendirian, ingatlah kelahiran dan kematianmu, Mblo. Anggep aja lagi latian menjalani kematian. Gitu aja kok repot!

    Salam Baper…

    Imam B. Carito
    Penganut setia paham Cogito Ergo Sum. Aku memilih (menjadi single) maka aku ada. Anda butuh pasangan untuk dipilih? Hubungi saya segera.

    *Nb : artikel ini pertama kali terbit di jombloo.co (sebelum diakuisisi oleh minumkopi.com) dengan judul yang sama.

    Gilgames, Isthar dan Engidu

    ” Kamu pernah denger kisah Isthar, Shamash Dan Duo Gilgamet Engidu ? ” kamu bertanya padaku di ujung senja, sore itu. 

    Aku menggeleng.

    ” Nih, aku ceritain..” kamu merubah posisi dudukmu menghadapku. Kita berhadapan, Kamu memulai ceritamu.
    Dahulu kala, di Negeri Erech, ada Pria rupawan nan gagah perkasa bernama Gilgamesh. Gilgames adalah anak laki – laki Lugalbanda, seorang raja Ereck yang berkuasa 2650 SM dan menikah dengan seorang dewi yaitu Dewi Nin atau Ramat Ninsun. Maka lahirlah seorang anak yang dua per tiga Dewa dan sepertiga manusia.

    Karena kekuatannya itu, dia kalua lelaki di Kota itu. Hampir semua lelaki ditantangnya. Hingga penduduk kota menjadi resah dibuatnya.
    Penduduk kota lalu memohon pada dewa agar diberikan pria tandingan untuk melawan Gilgames. Mungkin karena para Dewa itu mayoritas pria juga, akhirnya yg merespon doa penduduk adalah Dewi Perang, Isthar namanya.
    Isthar adalah Puteri Dewi yang paling berkuasa yaitu Anu, atau sering disebut Dewi Anann.

    Isthar lalu menyuruh Aruru Sang Dewa Penciptaan untuk membuat Pria Pesaing Gilgames. Jadilah pria rupawan nan gagah perkasa bertenaga binatang kedua yang tinggal di hutan, bernama Engidu. Isthar bahagia dibuatnya, karena telah lahir lawan setimpal untuk Gilgames.
    Namun rencana Isthar ini diketahui oleh Shamash, sang Dewa Matahari. Ia adalah anak dari Dewi Sin, Dewi Bulan yang menjelmakan diri dalam kecantikan cahaya bulan di tengah malam. Dan Shamash, berencana menjadikan kedua manusia hebat ini sebagai sahabatnya, bukan untuk diadu sebagaimana rencana Isthar.
    Shamash lalu mengutus seorang pendeta nan cantik rupawan bernama Shamhat untuk membujuk Engidu pergi meninggalkan hutan menuju Ereck. Engidu takluk, dan bersedia pergi ke Erech bersama Shamhat. Ah betapa kadang rupa nan cantik membius kekuatan besar manusia, bahkan seorang Engidu.
    Sesampainya di Erech, sampailah kabar kedatangan Engidu dan Shamhat ke telinga Gilgamet.

    Kamu tahu betapa berbahayanya menjadi cantik itu? Selain dapat membius, kecantikan wanita hampir selalu mengundang permusuhan antar pria. Begitupun yang akhirnya terjadi pada Engidu dan Gilgamet.
    Gilgamet yang perkasa merasa berkuasa atas apa yang berada diatas tanah kekuasaannya. Engidu yang buaspun merasa perlu melindungi apa yang ia anggap telah menjadi miliknya. Maka perkelahian itupun akhirnya terjadi justeru sesuai dengan rencana Isthar.
    Di sisi lain, di Hutan Aras tempat tinggal Engidu tiba – tiba muncul Humbaba. Ia adalah roh jahat penghuni hutan – hutan yang semua tidak berani muncul karena merasa takut pada Engidu. Sejak Engidu pergi meninggalkan hutan, ia mengumpulkan bala tentaranya, bahkan sampai berhasil menawan Isthar.
    Setelah berbulan – bulan bertarung dan tidak membuahkan hasil akhirnya Engidu dan Gilgames berhenti sesaat. Pada waktu jeda itulah, kabar Isthar yang ditawan Hambubu sampai ke telinga mereka. Setelah berunding, daripada bertarung dan tidak membuahkan hasil, mereka akhirnya memutuskan untuk bersama – sama memburu Hambubu untuk membebaskan Isthar.
    “ Kamu tahu bagaimana nasib Shamhat akhirnya? “ tanyamu di sela – sela cerita.
    Aku menggeleng sambil tersenyum lalu bertanya, “ Bagaiamana ? “
    “ Tidak ada, ya tidak ada lagi cerita tentang Shamhat. “ jawabmu sambil mendesah dan menundukkan kepala. “ Ah aku tu suka heran sama laki – laki. Kadang – kadang mereka sok berebut wanita sampai mau berantem segala. Eh pas udah ada cewek lain aja yang lebih, langsung pindah fokus. Yang lama dilupakan begitu saja. “ gerutumu kesal.
    Aku tertawa, lalu berkata, “ Dih, kan lagian Shamhat juga cuma utusan Shamash. Ya, kan? “
    “ Emm…iya juga sih. Tapi kan dia tetep aja wanita.” Kamu coba membela.
    “ Ah wanita memang selalu penuh tipu daya, “ ledekku.
    “ Biarin wee,” balasmu sambil menjulurkan lidah. “ Salahnya laki – laki mudah tergoda, “ kau menjulurkan lidahmu lagi. Aku tak hendak membalas, kamu melanjutkan cerita.
    Gilgames dan Engidu akhirnya berangkat ke hutan Aras untuk memburu Humbaba. Sesampainya di hutan Aras mereka langsung menantang Hambubu. Tentu saja Hambubu dan pasukannya bukanlah lawan bagi duo Gilgames dan Engidu. Keduanya menang dalam sekejap. Hambubu tumbang, dan Isthar segera dibebaskan.
    Namun sebelum meninggal Hambubu mengutuk mereka berdua, bahwa suatu saat nanti salah satu dari duo Gilgames dan Engidu, salah satunya akan mengalami kematian yang payah dan menyedihkan. Gilgames tak menghiraukan kutukan itu, karena yakin selama bersama Engidu, musuh yang kini jadi sahabatnya, mereka tak akan terkalahkan oleh maut sekalipun.
    Isthar merasa bahagia dan terharu telah diselamatkan oleh kedua pemuda perkasa nan tampan. Namun ia tahu bahwa sejak mula ia yang memerintahkan Aruru menciptakan Engidu. Maka hatinya lebih condong kepada Gilgames ketimbang Engidu.
    Di suatu malam, setelah perjalanan yang panjang di hutan Aras, Isthar mengutarakan isi hatinya. Namun tidak disangka, Gilgames menolaknya.
    “ Lhoh, ada yang sanggup menolak pesona Isthar rupanya? “ tanyaku menyela.
    “ Iya, kamu bisa bayangkan. Wanita secantik Isthar ditolak mentah – mentah, padahal seisi dunia memuja kecantikannya.” Jawabmu.
    Aku penasaran, kamu melanjutkan ceritamu.
    Gilgames tahu bahwa Isthar telah mencintai banyak nyawa sebelum mencintainya. Gilgames tahu Isthar telah mencintai Elang, Singa, Stallion (Kuda), Gembala dan Pencari Kayu bakar yang mereka temui di Hutan Aras, namun kemudian menyengsarakan mereka semua.
    Isthar murka atas penolakan Gilgames. Ia mengadu kepada ayahnya di langit para dewa. Ayah Isthar lalu mengirim Banteng Surgawi untuk membunuh Gilgames. Namun duo Gilgames dan Engidu terlalu kuat untuk ditandingi seekor Banteng Surgawi sekalipun. Banteng itu tumbang pada akhirnya, walaupun menyebabkan Engidu terluka parah. Sebagai bukti kemenangan, Gilgames memotong pallus Banteng tersebut, dan melemparkannya ke Isthar.
    “ Tuh kan, cewek mah suka gitu. “ selaku lagi.
    “ Gitu gimana ? “ tanyamu.
    “ Itu, memberi harapan pada jiwa – jiwa yang kesepian lalu disengsarakan. Pas giliran dia yang suka, eh ditolak malah marah – marah, “ terangku.
    “ Ihh, enggak gitu. Kan itu masa lalunya Isthar. “ katamu membela diri.
    “ Sukurin tuh Isthar kena karma. “ ledekku.
    “ Wuu.. Kamu tu jahat.” Kamu coba mencubit, aku mengelak. Langit mulai gelap, aku membayangkan bahwa mungkin Shamash lelah seharian. Dan sekarang waktunya Ibundanya, Sin menina bobokan manusia dalam temaram hangat cahaya bulan. Kehidupan memang tak pernah sempurna pada akhirnya, para dewa sekalipun.

    Sajak Ini Sayangku

    Sayangku, bertahun – betahun kita tumbuh dalam cinta. Merawat dan mengiringinya sampai cinta tumbuh dewasa. Tapi, Tuhan seperinya tak pernah kehabisan akal untuk mengujinya…lagi….dan lagi. Cinta kita yang sesumbar telah dewasa itu, dibuat mungil…lagi…dan lagi.